Yayasan Pelita Ilmu

Dr Toha Muhaimin, MSc

  • PDF

Bila semua orang seperti Pak Toha tentu dunia ini akan aman. Pak Toha penuh senyum dan kedamaian. Bila orang mengemukakan pendapat Pak Toha akan mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia tak cepat membantah. Dia berusaha untuk memahami sebelum memberikan komentar. Jika diundang, meski sibuk dia akan mengusahakan datang. Pak Toha juga amat konsisten dengan tugas yang diembannya. Contohnya adalah upayanya memperkenalkan permasalahan HIV/AIDS di kalangan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Setelah pulang mengikuti pelatihan HIV/AIDS di Amerika Serikat Pak Toha mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan perkuliahan HIV/AIDS di FKM UI. Semula tidaklah mudah untuk mengumpulkan dosen yang pada umumnya dari Jakarta yang selalu sibuk. Tak jarang Pak Toha memboyong mahasiswanya untuk mendengarkan kuliah atau berdiskusi dengan praktisi dan aktivis di bidang HIV/AIDS ke Jakarta. Dia juga gigih mengusahakan agar para mahasiswa melihat permasalahan nyata, bertemu dan berdiskusi dengan Odha. Dengan demikian para mahasiswa dapat memandang permasalahan secara lengkap. Untuk semua kegiatan tersebut Pak Toha berusaha hadir. Nah, bila giliran ujian mahasiswa, lagi-lagi Pak Toha yang jadi sibuk, kadang-kadang dia yang harus buat soal dan sekaligus mengoreksinya. Habis dosen yang lain sibuk sih.

Malam tahun baru biasanya YPI menyelenggarakan acara khusus. Namun acara YPI lain dari yang lain, acara tidak diadakan di hotel atau tempat peristirahatan tapi di sanggar. Topiknya juga unik, yaitu masa depan anak-anak putus sekolah. YPI mengundang sekitar 30 orang anak sekolah untuk merayakan malam tahun baru. Kue dan singkong dihidangkan dan anak putus sekolah diajak bicara tentang cita-cita mereka. Pengurus YPI diundang hadir dan seperti biasa yang rajin hadir adalah Pak Toha (kebetulan rumah Pak Toha tidak jauh dari sanggar).

Di tengah keceriaan menghadapi tahun baru yang penuh harapan beberapa pengurus YPI menceritakan kehidupan masa lalunya sewaktu masih kanak-kanak. Pak Zubairi menceritakan kehidupannya semasa bersekolah di Yogya, bagaimana dia bersama saudaranya bersekolah dengan fasilitas yang amat sederhana. Tapi cerita Pak Toha juga tak kalah menarik. Dia menceritakan keuletannya bertahan di masa sulit sewaktu kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Pak Toha tinggal di asrama Pegangsaan dan berusaha menambah uang saku dengan berjualan telor. Kesederhanaan dan keuletan ini mudah-mudahan dapat diteladani anak-anak putus sekolah yang sedang bergembira malam itu.

Sekarang Pak Toha tentu tidak perlu berjualan telor lagi. Dia telah menjadi dosen dan menjalankan praktek dokter namun kesederhanaan tak pernah lepas dri kepribadiannya. Dia tak segan menggunakan kendaraan umum. Di samping itu keberpihakannya terhadap orang miskin amat nyata. Suatu waktu dalam rapat pengurus dalam pembicaraan upaya penggalangan dana Pak Toha mengingatkan agar setiap uang yang diperoleh dari bisnis yang dilakukan YPI dialokasikan secara tetap untuk orang miskin.

Pada kunjungan ke pos desa YPI Pak Toha biasanya selalu ikut. Dia menikmati menggeluti berbagai masalah yang dihadapi masyarakat pedesaan. Semua dilakukan dengan tenang. Teman-teman YPI tak pernah melihat Pak Toha tegang dan marah. Dia adalah salah satu contoh aktivis LSM yang amat bersahabat. Mudah berkenalan dengan orang lain dan membangun tali silaturahmi. Jabatan Ketua Bidang Kemitraan YPI amat cocok bagi Pak Toha (Kini menjabat sebagai Ketua Umum YPI, periode 2002-sekarang). Dia amat rajin mengajak orang untuk bekerja sama dengan YPI, memperkuat barisan untuk menanggulangi HIV/AIDS di negeri kita. (Samsuridjal Djauzi)

You are here