Ressa Herlambang
Darah seni yang mengalir dalam tubuhnya begitu kental,sejak usia enam tahun Ressa sudah menekuni dunia tarik suara. Lewat ajang Asia Bagus di tahun 1999, namanya mulai dikenal.
Diary Of Life, adalah album perdananya di tahun 2004, pada tahun yang sama pria berusia 22 tahun ini masuk nominasi AMI untuk kategori penyanyi solo R & B terbaik. Lagunya juga mendapat tempat dihati penduduk Singapore dan Malaysia. Selain menyanyi, Ressa yang mengidolakan Justin Timbarlake dan Usher, juga pernah menjajal peruntungannya di dunia seni peran, sinetron Jangan Sepelekan, FTV Asmara Dara dan Semau Gue menjadi bukti aksinya.
Namun naluri menyanyi ternyata lebih kuat menariknya, lewat lagu ia dapat mengungkapkan segalanya, emosi, cita-cita dan cinta. Lewat lagu pula kepeduliannya terhadap Odha dicurahkan.
Bagaimana ide awal pembuatan lagu untuk Odha tersebut?
Ketika diundang oleh Forum LSM di Jakarta sebagai pengisi acara Malam Renungan AIDS Nasional, saya punya keinginan untuk membuat lagu yang temanya tentang cinta, baik pada diri sendiri maupun dengan sesama. Kalau lagu itu didengar, mungkin lebih pada mencintai sesama dan peduli pada mereka yang terkena HIV dan AIDS, serta cinta pada diri dan lingkungan sekitar. Sayangnya, lagu itu belum sempat dinyanyikan pada acara tersebut. Dan lagu itu masih saya simpan sampai sekarang.
Apa yang kamu tahu tentang HIV dan AIDS, juga orang-orang yang terkena virus tersebut?
Yang jelas jika saya punya teman Odha, saya tidak akan menjauhi mereka. Penyakit itu kan tidak menular secara langsung, hanya lewat cairan dan dengan cara-cara tertentu saja dapat menular.
Saya banyak membaca dari media massa dan diberitahu oleh kawan-kawan dari LSM, bahwa penyakit HIV dan AIDS belum ada obatnya, lalu terkenanya juga karena apa dan lewat cairan apa. Yang terpenting adalah banyak hal-hal yang tidak orang ketahui, bahwa berteman dengan Odha tidak akan membuat kita tertular HIV dan AIDS. Saya pribadi tidak takut dan tidak ada masalah berteman dengan Odha, selama Odha tersebut dapat menjaga apa yang harus dijaga dan saya pun dapat menjaga apa yang bisa saya jaga.
Pendapat kamu terhadap Odha, terutama cara mereka memandang hidup ini bagaimana?
Saya memang belum pernah mengenal Odha secara pribadi, tetapi saya beranggapan bahwa para Odha mempunyai spirit mental baja yang lebih dibandingkan dengan kita-kita yang hidup normal, karena mereka sadar bahwa usia mereka tidak akan lama. Belum tentu kita sanggup bersikap seperti mereka, ikhlas menerima ujian Tuhan dan mampu melalui itu semua, kalau yang tidak kuat pasti bisa gila. Jadi menurut saya, jangan pernah menganggap Odha adalah orang yang lemah, saya sangat salut dengan mereka semangat hidup mereka.
Menurut kamu penerimaan lingkungan terhadap keberadaan Odha, apa sudah layak?
Masih susah yah, kita kan tidak bisa memaksa seseorang untuk menerima apa yang menjadi ketakutan mereka dan membahayakan diri mereka. Walaupun mereka sudah tahu bahwa HIV dan AIDS tidak menular sebegitu mudahnya. Sebenarnya tinggal bagaimana memberikan penyuluhan yang tepat sasaran, orang-orang kita belum cukup open minded dengan penyakit itu, mereka masih kaku dalam bersikap. Odha pun tidak perlu memikirkan masyarakat yang belum dan tidak bisa menerima keberadaan mereka. Semua memang perlu waktu.
Kamu melihat perhatian pemerintah terhadap Odha bagaimana?
Pemerintah tidak dapat berbuat banyak, jika tidak di dukung oleh lembaga-lembaga yang kompeten dalam hal ini tentunya LSM. Bagaimana kalau Odha disediakan tempat khusus, seperti shelter. Di sana mereka tidak akan merasa terkukung karena tidak ada diskriminasi dari masyarakat. Tempatnya seperti base camp, jika mereka bosan berada di rumah, mereka dapat tinggal di base camp tersebut bersama Odha yang lain. Di sana mereka mendapatkan perawatan yang memadai. Setiap bulannya dibuat berbagai acara yang mendatangkan teman-teman artis, dengan cara ini mungkin perhatian pemerintah dan artis terhadap Odha lebih nyata. Di samping itu pula ada kegiatan-kegiatan lain yang membuat Odha lebih mandiri dalam menjalani hidupnya.
Dari kalangan musisi sendiri bagaimana perhatiannya?
Cukup perhatian, tetapi terkadang waktunya berbenturan dengan kesibukkan musisi tersebut. Coba kita lihat saat hari AIDS, semua musisi menunjukkan perhatiannya terhadap Odha serta bahaya yang ditimbulkan akibat HIV dan AIDS. Yang terbaik yang dapat diberikan musisi adalah hiburan, dengan itu semangat hidup akan muncul. (Khairina)





