Yayasan Pelita Ilmu

YPI Bonzie : Mencegah Keterlibatan Anak Dalam Perdagangan NARKOBA

  • PDF

Narkoba dan anak-anak jaraknya kini semakin dekat, tanpa kita sadari banyak anak terlibat dalam peredaran dan penjualannya. Pada tahun 2005 Base Camp YPI Bonzie mengembangkan program aksi penghapusan bentuk terburuk pekerjaan anak, dalam hal ini anak yang dipekerjakan pada industri obat-obat terlarang. Basecamp tersebut dikenal dengan sebutan YPI Bonzie, singkatan bahasa gaul dari Kebon Singkong, sebuah wilayah di Duren sawit, Jakarta Timur

Tahun 2003-2004 YPI Bonzie melakukan program (penelitian aksi) dalam upaya penarikan keterlibatan anak dalam produksi, peredaran dan penjualan narkoba di wilayah Kebon Singkong, Jakarta Timur.

Ditahun 2005 Bonzie mengembangkan program tersebut dan telah menjangkau 254 anak, diantaranya terdapat 46 anak terlibat di peredaran dan perdagangan narkoba. Karena dinilai berhasil, jangkauan pun diperluas se kecamatan Duren Sawit yang memiliki 7 kelurahan yaitu, Pondok Kopi, Malakasari, Malakajaya, Pondok Kelapa, Klender, Pondok Bambu dan Duren Sawit.

Menurut Manajer Program YPI Bonzie, Henny Yusriani, tujuan program aksi akan memberikan kontribusi pada efektifitas program penghapusan bentuk terburuk pekerjaan anak, dalam hal ini anak yang dipekerjakan dalam kegiatan industri dan perdagangan narkoba.

Adapun strategi yang dipakai, dengan pendekatan layanan kesehatan dan pendidikan serta penguatan jaringan referal sistem. Pasti pembaca bertanya, siapa kelompok sasaran dalam program aksi ini? Adalah anak-anak yang berisiko (baik laki-laki dan perempuan) di bawah usia 18 tahun tercegah dari keterlibatannya di peredaran narkoba, melalui layanan kesehatan dan konseling serta kreativitas.

Sekitar 50 anak (di bawah usia 18 tahun) yang telah teridentifikasi dalam peredaran narkoba, dapat ditarik dari keterlibatannya di peredaran narkoba melalui layanan kesehatan, konseling, kreativitas dan rujukan.

Banyak kegiatan

Banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh anak-anak tersebut di base camp YPI Bonzie, hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk duduk termenung. Beberapa kegiatan yang ada di sanggar kreativitas anak YPI Bonzie adalah, penyelenggaraan diskusi narkoba, kesehatan reproduksi dan seksualitas, HIV dan AIDS, hak anak dan budi pekerti serta isu terkait lainnya.

Selain itu juga diadakan pelatihan seperti, pelatihan peer educator, pelatihan kreativitas (seni mendongeng, komik, senam otak kanan dan pembuatan coklat), motivational achievement, management stress, pelatihan konseling, pelatihan penatalaksanaan narkoba di layanan kesehatan dan pelatihan managemen kasus anak yang terlibat di perdagangan narkoba.

YPI Bonzie juga bekerjasama dengan puskesmas di kecamatan Duren Sawit untuk memberikan layanan kesehatan dan konseling, pengobatan gratis setiap dua bulan sekali, konseling center dan layanan hotline. Serta membangun jaringan referal sistem dan layanan rujukan dengan Forum Konselor Narkoba (Iceberg Community), PPSW (Income generating activity untuk keluarga), PLS Jatinegara (untuk rujukan pendidikan), Puskesmas kecamatan Duren Sawit (penyakit umum dan masalah narkoba), rumah sakit Dharmais (test HIV), APINDO, BNP dan BNK (koordinasi dan pelatihan).
Sedangkan dengan Depdiknas PSLB dilakukan pengembangan kegiatan pengisi waktu luang berupa, ketrampilan langsung, komputer, bahasa Inggris, kegiatan belajar mengajar (baca, tulis, berhitung) dan remedial class.

Selain yang bersifat kerjasama, kegiatan bagi anak-anak yang dilakukan oleh Bonzie yaitu, mengasah kreativitas (origami, merangkai manik-manik dan menggambar), seni (teater, musik, dance dan pengembangan studio musik), layanan perpustakaan dan movie time.

Diakui oleh Henny, dengan banyaknya kegiatan yang dimiliki Bonzie bukan berarti semua kegiatan berjalan dengan mulus, apalagi yang dihadapi adalah anak-anak yang bermasalah. Hambatan dalam program yang dirasakan selama ini adalah, karakteristik Child Drugs Trafficker (CDT) yang sangat tertutup dan mudah curiga, wilayah jangkauan yang lebih luas (tujuh kelurahan se kecamatan Duren Sawit) menyulitkan intervensi yang akibatnya tidak merata, banyaknya CDT yang tidak memiliki KTP (untuk anak dan keluarganya) sehingga menyulitkan untuk melakukan rujukan (karena terbentur dengan prosedur rujukan) dan kurangnya kesadaran keluarga si anak terhadap pentingnya pendidikan (drop out pada saat SMP).

Henny berharap, semua hambatan ini akan memacu ia dan rekan-rekannya di YPI Bonzie untuk lebih giat mencari bentuk ideal pendekatan bagi anak-anak yang terlibat dalam perdagangan narkoba. (Khairina)

You are here